Air Mata di Hari Kemenangan: Syaharuddin Salami Ribuan Warga hingga Jadi yang Terakhir Tinggalkan Stadion Ganggawa
- account_circle Iful -
- calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
- visibility 429
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SIDRAP, KBK — Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) bukan sekadar perayaan keagamaan. Di Stadion Ganggawa, Sabtu (21/3/2026), momen itu berubah menjadi panggung haru yang memperlihatkan wajah kepemimpinan yang jarang terlihat—dekat, tulus, dan tanpa sekat.
Di hadapan ribuan jemaah, Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, tak tampil sebagai pejabat yang berjarak. Ia hadir sebagai bagian dari kerumunan. Usai salat Id, ia tidak bergegas pergi. Justru sebaliknya—ia berdiri, bertahan, dan menyalami warga satu per satu.
Tangan demi tangan ia genggam. Senyum demi senyum ia balas. Bahkan saat warga berebut swafoto, ia tetap melayani tanpa lelah.
Tak ada protokoler kaku. Tak ada pembatas. Yang ada hanyalah seorang pemimpin yang larut dalam kebersamaan dengan rakyatnya.
Bertahan hingga Akhir, Bukan Sekadar Simbolik
Ketika pejabat lain mulai meninggalkan stadion, Syaharuddin justru menjadi orang terakhir yang beranjak. Ia memastikan tak satu pun warga yang ingin bersalaman merasa diabaikan.
Sikap itu bukan kebetulan. Itu adalah pesan.
“Pemimpin itu harus berada di tengah masyarakatnya,” ucapnya dengan suara bergetar. “Hari ini saya ingin memastikan saya benar-benar bersama mereka.”
Kalimat itu sederhana, tapi di lapangan, ia membuktikannya dengan tindakan nyata.
Pidato yang Berubah Jadi Tangis
Suasana semakin emosional saat Syaharuddin menyampaikan sambutan. Di tengah pidato, suaranya terhenti. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha tegar, tapi haru tak terbendung.
Ia mengenang perjalanan satu tahun kepemimpinannya—tahun yang ia sebut penuh kerja keras, tekanan, sekaligus harapan.
“Jujur, saya tidak mampu menahan haru,” katanya.
“Dulu Sidrap mungkin biasa saja… tapi hari ini, Alhamdulillah, sudah dikenal di tingkat nasional.”
Ucapan itu disambut tepuk tangan panjang. Bukan sekadar apresiasi, tapi juga pengakuan atas perubahan yang dirasakan bersama.
30 Penghargaan, Tapi Bukan Klaim Pribadi
Dalam setahun, Sidrap mencatat lebih dari 30 penghargaan di berbagai level—kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Namun Syaharuddin menolak menjadikannya sebagai prestasi pribadi.
“Ini bukan keberhasilan saya. Ini keberhasilan kita semua,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kemajuan daerah tidak lahir dari satu figur, melainkan dari kerja kolektif—pemerintah dan masyarakat yang bergerak bersama.
Dari Lapangan ke Kehidupan Nyata
Perubahan yang disampaikan bukan sekadar angka. Ia menyentuh sektor paling dasar: pertanian dan peternakan—urat nadi ekonomi Sidrap.
Produktivitas meningkat. Pendapatan petani dan peternak membaik. Aktivitas ekonomi mulai bergerak lebih hidup.
Di sisi lain, pelayanan publik, infrastruktur, hingga pemberdayaan masyarakat juga menunjukkan kemajuan signifikan.
Bukan Sekadar Bupati
Apa yang terjadi di Stadion Ganggawa hari itu meninggalkan kesan kuat.
Di tengah ribuan orang, Syaharuddin tidak berdiri sebagai penguasa. Ia hadir sebagai pelayan. Ia tidak hanya berbicara tentang kedekatan dengan rakyat—ia menunjukkannya.
Idulfitri itu pun menjadi lebih dari sekadar hari kemenangan. Ia menjelma menjadi potret kepemimpinan yang hangat, menyentuh, dan manusiawi.
Dan ketika stadion mulai kosong, satu hal tersisa sebagai kesan yang sulit dilupakan:
seorang bupati yang memilih tinggal paling akhir—demi memastikan tak ada rakyatnya yang merasa jauh.(GnD)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar