Murid SD di Sidrap Dipulangkan dari Sekolah, Orang Tua Bingung: “Kami Tak Tahu Anak Kami Masih Terdaftar atau Tidak”
- account_circle Iful -
- calendar_month Jumat, 10 Okt 2025
- visibility 173
- comment 0 komentar

SIDRAP, KBK — Seorang murid SD Negeri 6 Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), berinisial MP, menjadi sorotan publik setelah dikabarkan dipulangkan dari sekolah saat jam belajar berlangsung pada Rabu (1/10/2025) lalu.
Kejadian ini sontak memicu reaksi beragam dari orang tua murid dan masyarakat sekitar. Banyak yang mempertanyakan prosedur serta alasan di balik kebijakan tersebut, terutama karena pemulangan dilakukan tanpa surat resmi atau pemberitahuan tertulis kepada pihak keluarga.
Orang tua MP, Sutiana, mengaku kaget dan kecewa saat mengetahui anaknya disuruh pulang di tengah jam pelajaran. Menurutnya, tidak ada penjelasan yang jelas dari pihak sekolah selain alasan bahwa MP kerap menjahili teman-temannya di kelas.
“Kami hanya diberitahu bahwa anak kami dipulangkan karena sering menjahili temannya. Tapi kami tidak tahu apakah anak kami dikeluarkan atau hanya diminta dibina di rumah,” ujar Sutiana saat ditemui wartawan di kediamannya, Kamis (9/10/2025).
Ia menambahkan, meskipun anaknya dikenal aktif dan terkadang usil, seharusnya pihak sekolah tetap mengedepankan pendekatan pembinaan, bukan pemulangan yang bisa berdampak pada psikologis anak.
“Saya sudah sampaikan ke pihak sekolah, biarlah anak saya tetap sekolah di situ. Setelah tamat nanti, rencananya akan saya masukkan ke pesantren supaya lebih terarah,” tambahnya penuh harap.
Namun, hingga beberapa hari berlalu, MP belum juga diperbolehkan kembali bersekolah. Hal itu membuat Sutiana kembali mendatangi pihak sekolah untuk meminta kejelasan status anaknya—apakah masih tercatat sebagai murid aktif atau sudah dinyatakan keluar.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah SDN 6 Arawa, Hj. Hamsiah, membenarkan adanya tindakan pemulangan sementara terhadap MP. Ia menegaskan, langkah tersebut bukan bentuk sanksi berat atau pengeluaran murid, melainkan bagian dari upaya pembinaan karakter dengan melibatkan peran orang tua secara langsung.
“Anak ini memang sering menjahili teman-temannya dan sudah beberapa kali kami beri peringatan. Jadi kami minta orang tuanya membina dulu di rumah agar anaknya bisa introspeksi dan lebih tenang sebelum kembali ke sekolah,” jelas Hj. Hamsiah saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/10/2025).
Ia juga menuturkan bahwa pihak sekolah telah menawarkan sejumlah solusi, termasuk memindahkan MP ke kelas B agar mendapatkan suasana belajar yang baru serta bimbingan guru yang berbeda.
“Kami bahkan sudah sarankan untuk pindah kelas saja, supaya suasananya berganti. Kami juga membuka opsi agar anaknya bisa mendapat pendampingan di sekolah agama bila itu dianggap lebih sesuai,” ujar Hamsiah, yang saat itu didampingi Guru Agama Hj. Ni’ma Nawawi dan Guru Kelas I, Minarni.
Namun, menurut Hamsiah, beberapa hari setelah pertemuan, orang tua MP justru datang kembali dan meminta surat pindah sekolah untuk anaknya.
“Kami sebenarnya berharap anak tersebut tidak perlu pindah sekolah, cukup pindah kelas saja. Tapi kami tetap menghormati keputusan orang tuanya,” tutur Hamsiah.
Peristiwa ini menjadi bahan refleksi bersama bagi semua pihak—baik sekolah, orang tua, maupun masyarakat—tentang pentingnya komunikasi terbuka dan kerja sama dalam menangani perilaku anak di usia sekolah dasar.
Beberapa pemerhati pendidikan di Sidrap turut menyoroti kasus ini. Mereka menilai perlunya pendekatan yang lebih humanis dan edukatif dalam menghadapi anak-anak yang aktif atau hiperaktif di lingkungan sekolah.
“Setiap anak memiliki karakter unik. Tugas pendidik bukan sekadar memberi pelajaran akademik, tetapi juga membentuk karakter dengan cara yang penuh kasih dan komunikasi yang baik dengan orang tua,” ujar salah satu pemerhati pendidikan, Rahmat Latief, S.Pd.
Ia berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap dapat memediasi kedua belah pihak dan menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pembinaan karakter di sekolah-sekolah dasar.
“Jangan sampai kasus seperti ini menimbulkan trauma bagi anak atau salah paham antara guru dan orang tua. Anak-anak perlu dibimbing, bukan ditakuti,” tutupnya.
Kasus MP kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat dan media sosial Sidrap. Banyak pihak berharap kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang, dan komunikasi antara sekolah dan orang tua dapat berjalan lebih baik demi masa depan anak-anak yang lebih cerah. (GnD)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar