Peringatan Sumpah Pemuda ke-98: Meneguhkan Patriotisme, Kegigihan, dan Empati Generasi Muda
- account_circle Uterus
- calendar_month 58 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SIDRAP — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan patriotisme, kegigihan, dan empati generasi muda dalam membangun bangsa.
Karakter ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan kemajuan Indonesia yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan, tetapi juga kualitas manusia dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan seragam Menteri Pemuda dan Olahraga yang dibacakan Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, saat bertindak sebagai inspektur upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kompleks Lapangan SKPD, Rabu (28/10/2026) pagi.
Turut hadir Wakil Bupati Sidrap Nurkanaah, Ketua DPRD Takyuddin Masse, Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda, Kepala Kejaksaan Negeri Sidrap Ady Kusumo Wibowo, Sekretaris Daerah Andi Rahmat Saleh, jajaran pejabat Pemkab Sidrap, serta undangan lainnya.
Upacara berlangsung khidmat dan diikuti peserta dari berbagai unsur, antara lain Pemuda Pancasila Kabupaten Sidrap, KNPI, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, pelajar SMA dan SMP, ASN, TNI-Polri, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutan yang dibacakan Bupati Sidrap, ditegaskan kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, kecanggihan teknologi, atau kekayaan, tetapi juga dari karakter manusia, kecintaan terhadap tanah air, semangat pantang menyerah, dan kepedulian sosial.
“Generasi muda harus memiliki jiwa patriotik, gigih dalam menghadapi tantangan, dan berempati terhadap sesama. Cinta tanah air tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui pengabdian dan tindakan nyata,” ujar Syaharuddin.
Ia juga menekankan, generasi muda perlu menjadi pribadi yang kuat tanpa kehilangan kelembutan hati, berani memimpin sekaligus bersedia melayani, serta menjadikan ilmu, karya, dan pengorbanan sebagai wujud kecintaan kepada bangsa.
“Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan makna, kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arah, dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” terang Syaharuddin.
Ditambahkannya, masa depan bangsa bukan sekadar sesuatu yang akan ditemui, melainkan sesuatu yang sedang dibangun bersama melalui karakter, karya, dan kepedulian setiap generasi. (*)
- Penulis: Uterus

Saat ini belum ada komentar