Agus Rasyid Butu Nahkodai PKB Sidrap, Usung Politik Terbuka untuk Semua
- account_circle kabarkita
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidrap, Sukses nahkodai PKB Sidrap, Agus Rasyid Butu sampaikan bahwa organisasi bukan sekadar tempat berhimpun. Organisasi adalah ruang belajar yang membentuk cara berpikir, menempa karakter, dan mengajarkan arti pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan itu dimulai dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), tempat ia tumbuh dan mengenal nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta pentingnya menjaga kebersamaan dalam keberagaman. Dari rahim organisasi NU, Agus belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Saat menempuh pendidikan tinggi, Agus aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa yang lahir dari tradisi intelektual NU. Di PMII, ia belajar mengasah daya kritis, kepemimpinan, serta kemampuan membaca berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
“PMII mengajarkan saya untuk berpikir kritis, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan dan keislaman. Dari sanalah saya memahami bahwa organisasi bukan tentang posisi, melainkan tentang pengabdian,” kata Agus.
Selepas dunia kampus, pengabdiannya berlanjut melalui Gerakan Pemuda Ansor. Di organisasi kepemudaan NU tersebut, Agus semakin dekat dengan berbagai dinamika sosial dan kebutuhan masyarakat di akar rumput. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa perubahan hanya bisa diwujudkan melalui kerja kolektif yang terorganisasi.
Tidak hanya berkiprah di lingkungan internal NU, Agus juga aktif dalam organisasi kepemudaan yang lebih luas. Ia dipercaya menduduki posisi Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Sulawesi Selatan selama dua periode. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan berinteraksi dengan beragam kelompok pemuda, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh lintas latar belakang.
“KNPI memberikan pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa membangun daerah membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Tidak ada organisasi yang bisa berjalan sendiri tanpa kemitraan dan kebersamaan,” ujarnya.
Di tengah aktivitas organisasinya, Agus juga menempuh pendidikan hingga meraih gelar Magister Ilmu Sosial dan Politik (S2 Sospol) dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Baginya, pendidikan dan pengalaman organisasi adalah dua sisi yang saling melengkapi.
Bekal pengalaman tersebut kemudian membawanya memasuki dunia politik melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun, seperti perjalanan organisasinya, Agus memilih meniti proses dari bawah. Ia memulai kiprahnya melalui Garda Bangsa PKB Sulawesi Selatan sebelum kemudian dipercaya menjadi Sekretaris DPC PKB Sidrap pada periode sebelumnya.
Kini, Agus mendapat amanah baru sebagai calon definitif Ketua DPC PKB Sidrap periode 2026–2031.
Baginya, amanah tersebut bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan kerja nyata. Ada sejumlah agenda penting yang telah menantinya.
Pertama, merampungkan kepengurusan DPC PKB Sidrap untuk segera ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) kepengurusan periode 2026–2031. Kedua, membentuk dan memperkuat struktur Pengurus Anak Cabang (PAC) di seluruh 11 kecamatan di Kabupaten Sidrap. Ketiga, menyiapkan partai menghadapi agenda politik dan pemilu mendatang.
“Prioritas utama kami adalah konsolidasi organisasi. Kami ingin memastikan PKB memiliki struktur yang kuat hingga ke tingkat kecamatan. Partai yang besar tidak hanya ditentukan oleh figur, tetapi oleh kekuatan kader dan organisasi yang bekerja sampai ke bawah,” tegas Agus.
Di balik agenda konsolidasi tersebut, Agus memiliki visi yang lebih besar. Ia ingin menjadikan PKB sebagai rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat Sidrap.
Menurutnya, PKB lahir dari semangat kebangsaan dan keagamaan yang moderat. Karena itu, partai ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi membangun daerah, tanpa melihat latar belakang organisasi, profesi, suku, maupun golongan.
“PKB adalah partai nasionalis religius yang terbuka untuk semua. Kami tidak membatasi diri hanya pada kelompok tertentu. Siapa pun yang memiliki niat baik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Sidrap, pintu PKB selalu terbuka,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak apatis terhadap politik. Agus meyakini bahwa politik merupakan salah satu instrumen penting untuk menghadirkan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Saya mengajak anak-anak muda, para aktivis, tokoh masyarakat, akademisi, petani, pelaku UMKM, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun PKB Sidrap. Politik harus menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan,” ujarnya.
Bagi Agus, seluruh perjalanan yang dilaluinya—mulai dari PMII, Ansor, KNPI, hingga PKB sebenarnya memiliki tujuan yang sama: melayani masyarakat melalui berbagai ruang pengabdian.
“Jabatan boleh berganti, organisasi boleh berbeda, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah. Saya ingin memastikan bahwa setiap amanah yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah yang kita cintai bersama,” tutupnya.
Perjalanan Agus Rasyid Butu adalah kisah tentang proses panjang seorang kader yang tumbuh dari organisasi, ditempa oleh pengalaman, lalu dipercaya memimpin. Kini, dengan amanah baru di PKB Sidrap, ia membawa harapan agar politik tidak hanya menjadi arena kontestasi, tetapi juga menjadi jalan pengabdian untuk masyarakat.(*)
- Penulis: kabarkita

Saat ini belum ada komentar