Dua Dekade Vakum, Lautan Umat Padati Stadion Ganggawa: Shalat Ied Fitri Sidrap Pecah Haru dan Harapan
- account_circle Iful -
- calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar

SIDRAP, KBK — Setelah hampir dua dekade absen dari ruang terbuka, gema takbir akhirnya kembali mengguncang Stadion Ganggawa. Sabtu pagi (21/3/2026), ribuan warga Kabupaten Sidenreng Rappang tumpah ruah, mengubah lapangan sepak bola itu menjadi lautan sajadah dalam pelaksanaan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah.
Momen ini bukan sekadar ibadah tahunan. Ini adalah penanda kembalinya sebuah tradisi besar—yang lama hilang, kini dihidupkan kembali di era kepemimpinan Bupati H. Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Nurkanaah.
Sejak fajar, arus manusia terus mengalir ke Stadion Ganggawa di Kelurahan Lakessi, Kecamatan Maritengngae. Warga dari berbagai penjuru datang dengan satu tujuan: bersujud bersama di bawah langit terbuka, dalam suasana yang sarat makna dan kebersamaan.
Tak ada sekat. Tak ada perbedaan. Yang terlihat hanya barisan jamaah yang rapat, menyatu dalam takbir dan doa.
Pelaksanaan Shalat Ied tingkat kabupaten yang kembali dipusatkan di stadion ini menjadi titik balik, setelah selama bertahun-tahun lebih sering digelar di Masjid Agung Pangkajene. Keputusan ini seolah menjawab kerinduan masyarakat akan syiar Islam yang lebih luas, terbuka, dan menyatukan.
Dalam pelaksanaannya, Ustadz Nurtaufik didapuk sebagai khatib, dengan H. Irwan bertindak sebagai imam dan H. Hasyim sebagai muballigh. Khutbah yang disampaikan menekankan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan hasil dari perjuangan spiritual selama Ramadan.
“Idulfitri adalah kemenangan yang harus dijaga. Nilai kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial tidak boleh berhenti setelah Ramadan,” tegasnya di hadapan ribuan jamaah.
Di tengah suasana khidmat itu, perhatian tertuju pada sosok Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif. Dalam sambutannya, ia tak mampu menyembunyikan haru. Suaranya bergetar, bahkan sempat terhenti saat menyampaikan komitmennya untuk membawa Sidrap melangkah lebih jauh.
“Melalui filosofi Saromase Sidenreng Rappang, kita satukan kekuatan ulama, umarah, dan masyarakat. Kita ingin Sidrap menjadi yang terbaik—lumbung beras, telur, hingga energi terbarukan di Indonesia,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga memaparkan sejumlah capaian selama masa kepemimpinannya: pertumbuhan ekonomi yang meningkat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menembus angka 74, hingga puluhan penghargaan di tingkat regional dan nasional.
Di sektor pertanian, lonjakan pendapatan petani menjadi sorotan. Dari sebelumnya sekitar Rp30 juta per hektare, kini mencapai Rp75 juta hingga Rp90 juta. Produksi gabah pun menembus 500 ribu ton, sementara produksi telur mencapai 5 juta butir.
Namun di balik angka-angka itu, pesan yang ingin ditegaskan jelas: pembangunan tidak boleh menggerus kebersamaan.
Pemerintah daerah juga menargetkan pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 554 kilometer serta penguatan sistem irigasi IP 300 sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan jangka panjang.
Di sisi lain, suasana Idulfitri juga diramaikan dengan pengumuman lomba takbiran tingkat kabupaten. Masjid Agung Maritengngae keluar sebagai juara pertama, disusul Masjid Nurul Salam Dea dan Masjid Hikmah Tanete.
Namun, lebih dari sekadar lomba dan capaian, Shalat Ied di Stadion Ganggawa tahun ini meninggalkan satu kesan yang sulit diabaikan: kebangkitan.
Kebangkitan tradisi.
Kebangkitan kebersamaan.
Dan kebangkitan semangat masyarakat Sidrap untuk melangkah sebagai satu kesatuan.
Di atas hamparan sajadah dan di bawah langit pagi Idulfitri, Sidrap seperti menemukan kembali denyutnya. (GnD)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar