Bunyamin Yapid: Haji 2025 Jadi Legacy Terbaik, Kemenag Gaungkan Kurikulum Cinta Kemanusiaan
- account_circle Iful -
- calendar_month Senin, 1 Sep 2025
- visibility 217
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SIDRAP, KBK — Penyelenggaraan Haji 2025 mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia. Selain berjalan lancar tanpa hambatan berarti, tahun ini juga menjadi momentum lahirnya terobosan besar Kementerian Agama (Kemenag) dalam mewujudkan pengelolaan ibadah haji yang efisien, transparan, sekaligus memberikan pengalaman terbaik bagi jemaah.
Hal tersebut ditegaskan Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Haji dan Umrah serta Kerja Sama Luar Negeri, H. Bunyamin Yapid, saat memberikan arahan pada kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidrap, Senin (1/9/2025). Kegiatan ini dihadiri para penyuluh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Dalam kesempatan itu, Bunyamin memaparkan sejumlah capaian penting yang menjadikan Haji 2025 sebagai penyelenggaraan terbaik sepanjang sejarah. Salah satunya adalah penggunaan delapan syarikah penerbangan untuk memberangkatkan dan memulangkan jemaah.
“Tidak ada negara lain yang pakai delapan syarikah, hanya Indonesia. Hasilnya, tidak ada satu pun jemaah yang tertinggal pesawat. Semua terangkut dengan aman dan tepat waktu,” tegas Bunyamin disambut tepuk tangan hadirin.
Efisiensi Anggaran Rp8 Triliun
Bunyamin mengungkapkan, inovasi ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan satu syarikah penerbangan. Melalui sistem yang lebih fleksibel dan kompetitif, Kemenag berhasil melakukan efisiensi anggaran hingga Rp8 triliun.
Bukan hanya itu, ongkos haji yang sempat mencapai Rp93 juta per jemaah pada 2024 berhasil diturunkan menjadi Rp89 juta di tahun 2025. Negara juga memberikan subsidi Rp4 juta untuk setiap jemaah.
“Tahun ini bukan lagi ongkos naik haji, tapi ongkos turun haji,” ujar Bunyamin, mengibaratkan keberhasilan tersebut sebagai bentuk nyata kehadiran negara untuk meringankan beban masyarakat.
Legacy Terbaik dari Kemenag
Lebih jauh, Bunyamin menyampaikan bahwa Haji 2025 kemungkinan menjadi tahun terakhir penyelenggaraan haji yang sepenuhnya dikelola oleh Kemenag. Karena itu, keberhasilan kali ini disebut sebagai legacy terbaik yang patut dikenang.
“Kita ingin jemaah tersenyum sejak persiapan, tersenyum saat menjalankan ibadah, hingga tersenyum sepulang ke tanah air. Dan yang terpenting, mereka pulang membawa predikat mabrur,” harapnya.
Tidak hanya pada aspek teknis keberangkatan dan pelayanan, Kemenag juga menghadirkan berbagai pembaruan pada manasik haji. Jika sebelumnya hanya menekankan aspek fiqih, kini ditambahkan pula unsur tasawuf untuk memperkuat pengalaman spiritual para jemaah.
Selain itu, ekosistem ekonomi haji juga mendapat perhatian khusus. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Kemenag membuka peluang ekspor bahan makanan nusantara untuk memenuhi kebutuhan jemaah di tanah suci.
“Dengan cara ini, kita bukan hanya melayani jemaah, tapi juga mendorong ekonomi nasional agar bisa ikut tumbuh bersama ibadah haji,” tambahnya.
Asta Protas dan Kurikulum Cinta Kemanusiaan
Dalam arahannya, Bunyamin juga menyampaikan pesan penting dari Menteri Agama terkait implementasi Asta Protas pasca suksesnya Haji 2025. Salah satu fokus utama adalah penguatan kurikulum cinta kemanusiaan, yang diharapkan menjadi fondasi kehidupan beragama di Indonesia.
Kurikulum ini mencakup lima poin strategis, yaitu:
- Peningkatan kualitas kerukunan umat beragama.
- Penguatan moderasi beragama.
- Insersi kurikulum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan perbedaan.
- Pemberdayaan rumah ibadah sebagai pusat harmoni sosial.
- Penguatan pembinaan umat melalui peran KUA dan lembaga keagamaan.
“Regulasi kerukunan umat beragama akan kita perkuat. Peran KUA kita dorong untuk mendeteksi dini potensi konflik. Sementara kurikulum berbasis cinta kemanusiaan akan diterapkan di lembaga pendidikan dan kediklatan binaan Kemenag,” jelasnya.
Pesan Damai untuk Umat
Menutup arahannya, Bunyamin menitipkan pesan khusus kepada para penyuluh agama, ustadz, dan tokoh ormas agar terus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan semangat perdamaian.
“Kita harus saling berbagi energi positif demi kerukunan dan kedamaian umat. Dengan cinta kemanusiaan, perbedaan bukan lagi menjadi jurang pemisah, tetapi jembatan persaudaraan,” pungkasnya.
Dengan capaian gemilang penyelenggaraan Haji 2025 dan lahirnya gagasan kurikulum cinta kemanusiaan, Kemenag menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi sekaligus menjaga harmoni umat beragama di Indonesia. (GnD)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar