Dari Jalanan ke Rumah Jabatan: Kapolres Sidrap Gendong Tunawisma di Hari Lebaran, Abidin Pulang dengan Air Mata Haru
- account_circle Iful -
- calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar

SIDRAP, KBK — Di tengah kemeriahan Idulfitri 1447 Hijriah, sebuah kisah kemanusiaan yang sunyi namun mengguncang hati muncul dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (20/4/2026).
Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, tidak hanya merayakan Lebaran sebagai pejabat negara. Ia memilih menghadirkannya sebagai momen berbagi rasa—dengan cara yang tak biasa: mengundang seorang tunawisma ke rumah jabatannya.
Tunawisma itu bernama Abidin (58). Selama ini ia hidup sebatang kara di sekitar Jalan Andi Haseng, Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae. Dalam keterbatasan—tak lagi dapat melihat dan lumpuh sejak muda—Abidin menjalani hidup di pinggiran, nyaris tanpa perhatian.
Namun Lebaran kali ini mengubah segalanya.
Momen Membopong yang Menggetarkan
Peristiwa paling menyentuh terjadi saat Abidin dijemput. Dalam sebuah video yang beredar, Kapolres Sidrap tampak membopong langsung tubuh Abidin untuk dinaikkan ke kendaraan.
Tak ada ragu. Tak ada canggung.
Yang terlihat hanyalah ketulusan.
Seorang perwira menengah Polri, dengan pangkat di pundak, merendahkan diri untuk mengangkat seorang lelaki renta yang selama ini nyaris tak terlihat oleh banyak mata.
Gestur itu sederhana—namun maknanya dalam.
Itu bukan sekadar bantuan fisik. Itu adalah pengakuan bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, layak diperlakukan dengan hormat.
Dari Terlupakan Menjadi Tamu Kehormatan
Setibanya di rumah jabatan, suasana berubah hangat. Abidin tidak diperlakukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai tamu kehormatan.
Ia diajak berbincang. Disambut dengan penuh kekeluargaan. Bahkan diberikan bantuan yang dibalut dalam amplop resmi Kapolres.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hal biasa.
Namun bagi Abidin, itu adalah pengalaman yang mungkin tak pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya—merasakan Lebaran di rumah seorang pejabat, dalam suasana yang penuh penghargaan.
Di hari kemenangan itu, ia tidak lagi sekadar bertahan hidup. Ia dihargai.
Lebaran yang Mengembalikan Martabat
Idulfitri sejatinya adalah tentang kembali ke fitrah. Di Sidrap, makna itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata.
Apa yang dilakukan AKBP Fantry Taherong bukan hanya memberi bantuan, tetapi mengangkat martabat.
Abidin—yang selama ini hidup di pinggiran—hari itu ditempatkan di tengah. Diakui. Diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.
Dan mungkin, di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya.
Keteladanan yang Tak Perlu Panggung
Di tengah padatnya tugas kepolisian, tindakan ini menjadi pengingat bahwa empati tidak boleh hilang dari seorang pemimpin.
Tak ada seremoni besar. Tak ada panggung megah.
Namun satu tindakan—membopong seorang tunawisma—berhasil menyampaikan pesan yang jauh lebih kuat dari seribu pidato.
Bahwa kemanusiaan tidak mengenal jabatan. Tidak mengenal status sosial.
Pesan Sunyi yang Menggema
Kisah ini cepat menyebar. Video singkat itu menjadi viral, mengundang haru dari banyak pihak.
Namun di balik itu semua, ada pesan sederhana yang terasa begitu kuat:
Kebaikan tidak harus besar untuk berarti.
Cukup tulus—dan dilakukan dengan hati.
Di Idulfitri tahun ini, Sidrap tidak hanya dipenuhi gema takbir.
Ia juga dipenuhi satu hal yang sering terlupa—kepedulian yang nyata.
Dan bagi Abidin, hari itu menjadi bukti bahwa ia tidak sendiri.(GnD)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar