Suharman Resmi Sandang Gelar Doktor, Temukan Mikroba Lokal yang Dongkrak Produktivitas Bawang Merah hingga 68 Persen
- account_circle Basir
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 73
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAKASSAR,KABAR KITA.CO.ID– Dosen sekaligus Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), Suharman, dinyatakan lulus dalam ujian promosi doktor pada Program Studi Ilmu Pertanian Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (UNHAS), Rabu (8/7/2026).
Disertasinya menawarkan pendekatan baru dalam budidaya bawang merah melalui pemanfaatan bakteri lokal pemacu pertumbuhan tanaman atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang diisolasi dari lahan karst Kabupaten Enrekang.
Dalam ujian doktor tersebut, Suharman mempertahankan disertasi berjudul “Eksplorasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) sebagai Pemacu Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Lahan Karst Enrekang.” Penelitian itu menyoroti pemanfaatan mikroba lokal sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas bawang merah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia.
Disertasi tersebut dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Fachirah Ulfa, M.P. sebagai promotor, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Baharuddin sebagai ko-promotor, dan Dr. Ir. Katriani Mantja, M.P. sebagai ko-promotor. Tim promotor mendampingi penelitian sejak tahap eksplorasi mikroba di kawasan perakaran tanaman, seleksi isolat unggul, identifikasi molekuler, hingga pengujian aplikasinya pada tanaman bawang merah.
Ujian doktor juga melibatkan penguji eksternal dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si., yang menjabat Direktur Jenderal Hortikultura. Kehadiran penguji dari unsur pemerintah pusat mencerminkan relevansi penelitian tersebut terhadap pengembangan komoditas hortikultura nasional, terutama bawang merah yang menjadi salah satu komoditas strategis.
Menurut Suharman, basic penelitiannya berangkat dari persoalan yang dihadapi petani bawang merah di lahan karst, yakni rendahnya kesuburan tanah, terbatasnya kandungan bahan organik, serta rendahnya kemampuan tanah menyimpan unsur hara. Kondisi tersebut selama ini mendorong penggunaan pupuk dan pestisida sintetis secara intensif yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan.
“Melalui eksplorasi mikroba lokal dari rhizosfer bawang merah di Enrekang, kami berhasil mengidentifikasi 112 isolat bakteri, kemudian mengarakterisasi 60 isolat, dan menyeleksi 23 isolat yang memiliki potensi sebagai biostimulan, biofertilizer, dan bioprotektan,” ucapnya.
Isolat-isolat tersebut diketahui mampu menghasilkan hormon pertumbuhan, membantu fiksasi nitrogen, melarutkan fosfat, memproduksi siderofor, hingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap gangguan biologis, lanjutnya.
Dihadapan para Anggota Dewan Penguji, Suharman mengatakan bahwa salah satu temuan penting dalam penelitian disertasinya adalah isolat TP49.
Hasil pengujian laboratorium, isolat tersebut menunjukkan kemampuan paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan bawang merah, mulai dari tinggi tanaman, jumlah daun, perkembangan akar, hingga biomassa tanaman, terangnya.
Lebih lanjut, Suharman mengungkapkan bahwa hasil dari analisis molekuler menunjukkan TP49 memiliki kemiripan dengan Bacillus flexus, bakteri yang dikenal memiliki potensi sebagai agen hayati pemacu pertumbuhan tanaman.
Diuraikannya bahwa yang lebih menjanjikan dari hasil penelitian disertasi diperoleh pada tahap pengujian di rumah kaca.
Melalui teknologi seed coating dan penyemprotan inokulan PGPR, produksi bawang merah meningkat signifikan dibandingkan tanaman tanpa perlakuan, katanya.
Produksi tertinggi tercatat pada kombinasi seed coating BN11 dan penyemprotan BN11 yang mencapai 4,06 ton per hektare, disusul kombinasi BN11 dan TP49 sebesar 4,03 ton per hektare.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol yang hanya menghasilkan 2,42 ton per hektare, atau meningkat sekitar 66 hingga 68 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan PGPR indigenus berpotensi menjadi teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi serapan hara dan produktivitas tanaman.
Teknologi ini juga dinilai dapat dikembangkan sebagai paket bioinput berbasis mikroba lokal melalui formulasi pelapis benih (seed coating) maupun inokulan semprot yang mudah diterapkan petani.
Selain menghasilkan inovasi yang aplikatif, sebagian hasil penelitian Suharman telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi, antara lain International Journal of Agriculture and Biosciences yang terindeks Scopus Q1 serta Brazilian Journal of Biology yang terindeks Scopus Q2.
Publikasi tersebut memperkuat kontribusi ilmiah riset mengenai pengembangan PGPR sebagai teknologi hayati untuk pertanian berkelanjutan.
Menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Enrekang, Dr. Drs. H. Syawal Sitonda, M.Ag bahwa capaian akademik ini menjadi tambahan prestasi dosen sekaligus memperkuat kapasitas riset institusi dalam bidang pertanian.
“Ke depan, hasil penelitian dari Dr. Suharman diharapkan dapat dilanjutkan pada tahap uji multilokasi, pengembangan formulasi bioinput, hingga hilirisasi teknologi agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh petani bawang merah,” ucapnya.
Jika berhasil dikembangkan dalam skala yang lebih besar, maka teknologi PGPR indigenus dari lahan karst Enrekang berpeluang menjadi salah satu inovasi pertanian berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas bawang merah di Sulawesi Selatan, tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai sentra produksi bawang merah di Indonesia, tambahnya.
Dengan selesainya Suharman promosi doktor, UNIMEN telah memiliki 23 orang dosen yang telah berkualifikasi doktor. Saat ini, puluhan dosen UNIMEN lain juga tengah menempuh studi doktoral di berbagai perguruan tinggi terkemuka di dalam maupun luar negeri. (OMBASS)
- Penulis: Basir

Saat ini belum ada komentar