Ajang Duta Budaya Internasional di Pinrang Tuai Sorotan, Peserta Keluhkan Penilaian dan Transparansi Pengumuman
- account_circle Iful -
- calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
- visibility 74
- comment 0 komentar

PINRANG, KBK — Gelaran Pemilihan Duta Budaya Internasional yang berlangsung di Lapangan Lasinrang, Kabupaten Pinrang, Selasa malam (25/11/2026), mendapat sorotan tajam dari sejumlah peserta dan pendamping yang menilai pelaksanaan acara tidak sepenuhnya sesuai standar penjurian dan tata kelola event.
Salah satu pihak yang menyampaikan kritik adalah Sapruddin A.Md, Founder Model Intertaimen, yang juga mengikutsertakan model binaannya dalam kompetisi tersebut. Ia menilai penilaian seharusnya mengacu pada tema utama, yakni Wastra Budaya, yang menjadi syarat utama kostum peserta.
“Seharusnya juri memberikan nilai sesuai tema wastra atau budaya yang dipakai peserta. Gaun malam itu lima puluh persen harus menggunakan wastra lokal Sulawesi Selatan,” tegasnya.
Sapruddin juga menyoroti kurangnya transparansi dalam proses pengumuman pemenang. Ia menilai semestinya berita acara penilaian dibacakan terlebih dahulu sebelum hasil tiap kategori diumumkan kepada publik.
Selain itu, ia mengkritik teknis pengumuman yang hanya menyebut nomor urut pemenang tanpa memberikan kesempatan bagi peserta untuk naik ke panggung.
“Pemenang seharusnya dipanggil naik ke panggung agar bisa dilihat langsung oleh penonton dan peserta lain. Bukan hanya sebut nomor urut begitu saja,” ujarnya.
Kritik senada juga disampaikan Umi, salah satu pendamping peserta. Ia menyebut tata cara pengumuman membuat penonton kesulitan mengetahui siapa yang masuk tiga besar.
“Begitu namanya disebut, pemenang naik ke panggung dulu supaya semua bisa lihat. Walaupun tropinya belum diserahkan, setidaknya jelas siapa finalis terbaik,” katanya.
Menurut Umi, peserta dan pendamping akan menerima hasil keputusan juri selama prosesnya terbuka, transparan, dan sesuai aturan, terlebih acara ini membawa nama event internasional.
Tema Wastra dan Kompetensi Juri Jadi Sorotan
Acara ini digelar dengan konsep spektakuler dan mengangkat tema Budaya Internasional, namun tetap mewajibkan lima puluh persen penggunaan wastra dalam gaun malam sesuai persyaratan penilaian.
Karena itu, sejumlah peserta berharap panitia dan juri lebih memahami aturan tema serta memiliki kompetensi di bidang fashion dan kebudayaan agar penilaian berjalan objektif.
Respons Panitia Tuai Reaksi
Dalam grup WhatsApp Duta Budaya Internasional Pinrang, sejumlah peserta yang mengajukan komplain mengaku tidak mendapat ruang diskusi. Pesan mereka hanya dijawab singkat oleh Ketua Panitia, Enal, yang menegaskan bahwa keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Tak lama setelah itu, grup berubah menjadi mode admin-only, sehingga peserta tidak lagi bisa memberikan tanggapan.
Panitia Belum Beri Pernyataan Resmi
Hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia belum memberikan keterangan resmi terkait sorotan dari peserta maupun pendamping yang merasa pelaksanaan lomba kurang transparan.
Acara yang semestinya menjadi ajang apresiasi budaya justru menuai evaluasi terkait profesionalisme, penjurian, serta tata kelola penyelenggaraan. (Gnd)
- Penulis: Iful -

Saat ini belum ada komentar