Mahasiswa Saintek UIN Alauddin Geruduk Fly Over dan DPRD Sulsel, Teriakkan Indonesia Emas atau Indonesia Cemas
- account_circle Uterus
- calendar_month Senin, 14 Jul 2025
- visibility 289
- comment 0 komentar

MAKASSAR – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Saintek UIN Alauddin Makassar turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi di dua titik strategis Kota Makassar, yaitu Fly Over Urip Sumoharjo dan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Senin, 14 Juli 2025.
Aksi ini membawa pesan besar bertajuk Indonesia Emas atau Indonesia Cemas, sebagai bentuk kritik tajam terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat yang dinilai tidak berpihak pada rakyat dan masa depan generasi muda.
Aksi dimulai sejak siang hari di Fly Over yang mereka sebut sebagai “persimpangan peradaban”, tempat mahasiswa menyuarakan keresahan lewat orasi, spanduk kritis, dan aksi teatrikal yang menggambarkan matinya kebebasan berpikir.
Massa kemudian longmarch menuju Gedung DPRD Sulsel sambil menyerukan perlawanan terhadap sistem pendidikan yang mereka anggap diskriminatif dan kebijakan yang anti-sejarah.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di depan DPRD, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan utama.
Evaluasi total terhadap Kurikulum Nasional 2025 berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dinilai terlalu elitis dan belum siap diterapkan secara merata di Indonesia.
Pencopotan Menteri Kebudayaan karena dinilai mengingkari sejarah, khususnya tragedi pemerkosaan massal 1998.
Transparansi dalam regulasi UKT/BKT serta pembentukan mekanisme pengaduan terbuka untuk mencegah diskriminasi dan nepotisme dalam distribusi beasiswa KIP-K.
Penghentian kriminalisasi terhadap aktivis mahasiswa dan pegiat HAM di Makassar.
Ketua DEMA Fakultas Saintek UIN Alauddin Makassar, Muh. Alwi Nur, menyatakan bahwa aksi ini merupakan panggilan sejarah mahasiswa untuk tetap menjadi penjaga nurani rakyat.
“Kami tidak anti-AI, tapi kami menolak kurikulum yang tidak membumi. Kami menolak pelupaan sejarah dan segala bentuk pembungkaman terhadap aktivis. Negara harus hadir sebagai pendengar, bukan penekan,” tegasnya.
Dokumen pernyataan sikap secara resmi diserahkan kepada DPRD Sulsel sebagai bagian dari komitmen dialogis. Aksi berakhir dengan damai, namun menyisakan gema pesan bahwa generasi muda tidak akan diam terhadap ketidakadilan yang mengintai masa depan bangsa. (Bm)
- Penulis: Uterus

Saat ini belum ada komentar