Dari Kebun ke Pasar Digital, UNIMEN dan UHO Ubah Potensi Kakao Desa Mata Allo
- account_circle Basir
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ENREKANG,KABAR KITA.CO.ID--Petani kakao di Desa Mata Allo, Kabupaten Enrekang, didorong tidak lagi bergantung pada penjualan biji kakao kering. Melalui teknologi pengolahan dan pemasaran digital, komoditas perkebunan tersebut diarahkan menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Upaya itu dilakukan Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) bersama Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Program Kosabangsa 2026 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).
Program bertajuk Hilirisasi Produk Olahan Kakao melalui Penerapan Teknologi Natural-Based Alkalization dan Pemasaran Digital untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat Desa Mata Allo Enrekang tersebut menyasar persoalan yang kerap dihadapi masyarakat penghasil komoditas pertanian: keterbatasan kemampuan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Natural-Based Alkalization, yakni teknik pengolahan biji kakao dengan memanfaatkan bahan alkali alami. Teknologi ini diarahkan untuk menghasilkan bubuk kakao dengan warna lebih baik, tingkat keasaman lebih rendah, serta cita rasa yang lebih seimbang dan konsisten.
Bagi masyarakat Desa Mata Allo, penerapan teknologi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan usaha yang tidak berhenti pada produksi biji kakao. Bahan baku yang sebelumnya dipasarkan dalam bentuk mentah diharapkan dapat diolah menjadi produk dengan karakteristik dan nilai jual yang lebih kompetitif.
Untuk mendukung proses produksi, program ini menyiapkan sejumlah peralatan pengolahan, antara lain mesin sangrai, pemecah dan pemisah kulit biji, oven, penggiling kakao, mesin press hidraulik, serta hammer mill. Pengadaan peralatan tersebut disertai penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanganan pascapanen dan pengolahan agar proses produksi berlangsung lebih terarah.
Program ini melibatkan dua kelompok masyarakat sebagai mitra utama. Kelompok Tani Salu Bendo’ memiliki 19 anggota, sedangkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Hadi beranggotakan 20 orang. Keduanya diarahkan mengambil peran berbeda tetapi saling melengkapi dalam membangun usaha kakao berbasis potensi lokal.
Keterlibatan perempuan menjadi salah satu bagian penting dari program tersebut. KWT Al Hadi diarahkan untuk mengembangkan diversifikasi produk, identitas merek, desain kemasan, hingga promosi dan pemasaran digital.
Dengan demikian, peran perempuan tidak hanya berada pada proses pengolahan, tetapi juga diperluas ke aspek pengembangan produk dan pengelolaan pasar. Keterampilan tersebut diharapkan membuka peluang usaha produktif sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam aktivitas ekonomi desa.
Ketua Kelompok Tani Salu Bendo’, Sopian, S.Pd., menyambut baik pendampingan yang diberikan kepada para petani. Ia berharap pengetahuan dan teknologi pengolahan yang diperkenalkan dapat membantu kelompoknya mengembangkan hasil kakao agar tidak hanya dijual sebagai biji kering.
Harapan serupa disampaikan Ketua KWT Al Hadi, Nida Wahyuni. Menurutnya, keterampilan pengolahan perlu diikuti kemampuan mengemas dan memasarkan produk secara menarik agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Karena itu, penguatan produksi dalam program ini berjalan beriringan dengan pengembangan pemasaran digital. Masyarakat didorong membangun identitas merek, desain kemasan, akun media sosial bisnis, toko pada marketplace, serta laman digital yang terintegrasi dengan kanal pemasaran,” katanya, Sabtu (31/10/2026).
Strategi tersebut diarahkan agar produk kakao Desa Mata Allo memiliki identitas yang lebih kuat dan tidak hanya bergantung pada pemasaran konvensional. Akses pasar digital juga diharapkan membuka peluang bagi produk lokal untuk dikenal oleh konsumen di luar wilayah Enrekang.
Program Kosabangsa 2026 ini dilaksanakan oleh tim UNIMEN yang dipimpin Dr. Asbar, M.Pd., M.Hum., bersama anggota Nirma Septia Ramlan Anjas, S.P., M.Si. dan Zarina, S.Pd., M.Ak. Tim pendamping dari UHO dipimpin Prof. Dr. H. Tamrin, S.P., M.P., bersama Dr. Nini Mila Rahni, S.P., M.P.
Kepala Desa Mata Allo, Usman Rasi, turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Dukungan pemerintah desa diharapkan memperkuat koordinasi dan partisipasi masyarakat, sekaligus membantu menjaga keberlanjutan kegiatan setelah masa pendampingan perguruan tinggi berakhir.
“Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dan peralatan yang diperkenalkan benar-benar digunakan secara berkelanjutan, keterampilan masyarakat berkembang menjadi kemampuan produksi mandiri, serta produk yang dihasilkan mampu menembus pasar,” ujar Usman.
Di titik inilah keberhasilan hilirisasi kakao Desa Mata Allo akan diuji. Bukan semata pada tersedianya mesin pengolahan atau terbentuknya kanal pemasaran digital, melainkan pada kemampuan masyarakat mengelola usaha, menjaga kualitas produk, dan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari komoditas yang mereka hasilkan.
Melalui kolaborasi UNIMEN dan UHO, Program Kosabangsa 2026 membawa satu agenda penting: mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga menjadi pelaku dalam rantai nilai produk kakao. ( Ombass)
- Penulis: Basir

Saat ini belum ada komentar