Masyarakat Pancasila, Teralienasi dari Nilai-Nilai Pancasila, Refleksi Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945 – 1 Juni 2025
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
- visibility 1.055
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masyarakat Pancasila menjadi masyarakat yang terasing terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
Paradox Nilai: Dari Sila ke Realita
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung nilai ketaatan, religiusitas, dan kesadaran spiritual sebagai fondasi moral kehidupan. Namun hari ini, masyarakat kita makin lepas dari nilai-nilai transendental. Agama dijalankan lebih sebagai ritual kosong atau bahkan komoditas politik.
Kebebasan tafsir yang tidak disertai tanggung jawab justru melahirkan liberalisme nilai, sekularisme sikap, dan formalisme ibadah. Akibatnya, jiwa menjadi kosong, dan agama kehilangan peran transformasionalnya.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengamanatkan kepekaan sosial, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Tapi yang berkembang justru budaya Individualisme dan Pragmatisme. Norma, etika, dan adab dipinggirkan oleh kepentingan pribadi. Di ruang digital, kita menyaksikan setiap hari komentar dan ujaran kebencian, perundungan, dan kekerasan verbal menjadi hal biasa. Nilai adab tergerus oleh algoritma.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang seharusnya memperkuat kohesi sosial dan mengatasi sekat-sekat perbedaan, kini justru diuji oleh polarisasi identitas. Narasi kebangsaan tergantikan oleh fanatisme sempit, baik dalam politik, agama, maupun kelompok sosial. Gotong royong digantikan oleh kepentingan pribadi.
Fakta meningkatnya kemiskinan, bunuh diri karena keputusasaan, dan apatisme sosial menunjukkan rapuhnya solidaritas kita sebagai bangsa.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, idealnya menciptakan proses demokrasi yang etis dan partisipatif. Namun dalam praktiknya, banyak keputusan publik diambil secara sepihak, tanpa musyawarah yang bermakna.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar